Pertanyaan
mendasar mungkin sering muncul di benak kita, kenapa ada orang dengan
profesi yang sama tetapi mempunyai tingkat kesejahteraan yang berbeda,
bahkan beberapa diantaranya ada perbedaan yang cukup ekstrim. Tentu saja
hal ini bukan tanpa sebab, karena berbicara hukum sebab – akibat segala
hal yang terjadi di muka bumi ini pasti punya sebab sehingga muncul
akibat.
Oleh sebab itulah kemudian kita harus mencari tahu dimana letak sebab
itu, dengan harapan bisa menjadi pembelajaran yang bisa dipelajari,
Sehingga jurang pemisah kemakmuran dunia itu bisa dikejar dan perkecil.
Keahlian itu bertingkat dan berkorelasi positif dengan tingkat
kesejahteraan. Kita akan menemui juara Badminton tingkat kecamatan akan
mendapatkan jumlah hadiah yang berbeda dengan juara badminton tingkat
nasional. Kenapa kok bisa gitu yah..??? nah justru itulah hal menarik
yang ingin kita bicarakan mengenai keahlian.
Kita pasti pernah mendengar mengenai cerita mengenai tetesan air yang
lembut tetapi bisa menembus batu yang keras jikalau ditetesi oleh air
terus menerus. Mungkin kira – kira seperti itulah gambaran dari kegiatan
yang berfokus. Sifat dasar air yang cair ternyata bukan halangan untuk
melobangi sifat batu yang keras.
Level dunia merupakan puncak pencapaian tertinggi bagi setiap orang,
rasa kebanggaan serta kepuasan dalam menggapainya itu akan lebih terasa
luar biasa. Juara lari olimpiade tentu saja berbeda dengan juara lari
level sea games, apalagi level nasional seperti pon. Tentu saja
pencapaian menuju level dunia bukanlah barang mudah.
Sebagai ilustrasi perbandingan tingkat kesehjateraan level dunia, tentu
kita semua mengenal leonal messi pemain barcelona bertubuh kecil tetapi
mempunyai skill individu luar biasa. jikalau dikatakan bahwa leonal
messi seorang dengan keahlian tingkat dunia tidak akan ada yang akan
meragukan pernyataan ini. Mari kita lihat tingkat kesejahteraannya dalam
setahun dari penghasilan gajinya saja dia mendapat 33juta euro, klo di
akumulasikan kerupiah dikalikan dengan tigabelasribu rupiah/euro sekitar
429.000.000.000 rupiah angka yang fantastis bukan.??? Mari kita
bandingkan dengan pemain sepakbola nomer satu nasional bambang pamungkas
sekitar rp 1.300.000.000 rupiah/tahun. Dari perbandingan itu bisa
dilihat perbedaan angka yang cukup jauh, bahkan sangat jauh. Kasarnya
bisa dikatakan mungkin seorang lianol messi itu bernilai 430 kale lipat
lebih banyak dari seorang Bepe(Bambang Pamungkas). Tentu saja ini bukan
fisik, karena jikalau berbicara fisik tentu saja sama diantara mereka
berdua, mereka berdua mempunyai jumlah jantung yang sama, jumlah kaki
yang sama, jumlah mata yang sama, jumlah tangan yang sama, bahkan tinggi
badan pun hampirlah sama, tetapi semua ini lebih kepada nilai
kemampuan(skill). Itulah kemampuan level dunia, menggiurkan bukan..??
Malcom Gladwell mengatakan “Latihan bukanlah hal yang akan anda lakukan
begitu anda sudah ahli, tetapi adalah hal yang anda lakukan untuk
membuat anda ahli”. Begitu juga sering kita temui di sebuah buku
pelajaran ungkapan “practice makes perfect”, Seorang negarawan Amerika
Abraham Lincon juga mengatakan bahwa “Seandainya saya mempunyai waktu
sepuluh jam untuk menebang pohon, saya akan melewatkan delapan jam
pertama untuk mengasah kapak saya” Dari sini kita akan mulai berbicara
mengenai pencapaian keahlian level dunia.
Di dalam buku “Rahasia Presentasi Steve Jobs” di sebutkan dalam sebuah
halaman mengenai rahasia ini, di dalam buku itu dijelaskan penelitian
Professor psikologi Dr. K. Anderson Ericsson telah melakukan studi
terhadap atlet- atlet top seperti Michael Jordan dan juga orang – orang
berprestasi luar biasa di bidang – bidang lainnya: para pemain catur,
pemain golf, dokter, dan bahkan pelempar panah mainan(dart). Ericsson
menemukan bahwa orang – orang yang berprestasi luar biasa ini
mendapatkan keterampilannya yang luar biasa ini melalui latihan
terencana. Dengan kata lain, mereka tidak hanya melakukan hal yang sama
berulang – ulang dan berharap menjadi lebih baik. Namun, mereka
menetapkan tujuan spesifik, meminta umpan balik, dan terus menerus
berjuang untuk lebih baik dalam jangka panjang. Dari riset Ericsson,
kami mengetahui bahwa orang – orang hebat itu melatih suatu keterampilan
tertentu berulang – ulang terus selama bertahun –tahun.1
Hal yang sama juga berlaku untuk para pembicara dan penulis hebat,
karena mereka berlatih. Winston Churchill adalah salah satu komunikator
luar biasa abad kedua puluh. Ia adalah masternya dalam hal persuasif,
pengaruh dan motivasi. Churchill dengan sengaja melatih kapasitas ini
karena profesinya sebagai negarawan, hal ini diperlukan untuk memberikan
inspirasi kepada jutaan orang inggris selama hari – hari paling gelap
semasa pernag dunia II. “Ia akan menyiapkan diri selama berhari –hari
sebelum memberikan pidatonya dan mempraktekan lelucon atau sanggahan
yang mungkin timbul ”. Persiapannya yang matang membuat dia tampil
sangat natural dan sangat membuat audiens terpesona. Pelajarannya
sederhana tetapi memelurkan banyak kerja keras. Latihan itu sangat
penting, terutama jika anda ingin terlihat spontan. Komunikator hebat
kelas dunia selalu mengetahui bahwa “spontanitas” adalah hasil dari
latihan terencana.
Menurut Malcom Gladwell dalam buku Outliers, “Riset menyebutkan bahwa
begitu seorang musisi memenuhi syarat keterampilan yang cukup untuk
memasuki sekolah musik yang bagus, maka satu-satunya hal yang membedakan
seorang pemain musik dengan yang lainnya adalah seberapa keras dia
berusaha ”. itu saja, Orang – orang yang berada di puncak karirnya
mereka pasti adalah orang – orang yang berusaha lebih keras dari orang
lain, atau bahkan jauh lebih keras dari orang lain.2 Banyak riset
mengenai orang – orang yang berkinerja puncak memperlihatkan bahwa
latihan adalah benang merah bagi semua orang yang unggul dalam bidang
tertentu. Ilmuwan syarat dan musisi Daniel Letivin meyakini bahwa angka
ajaibnya adalah sepuluh ribu jam.
“Gambaran yang muncul dari studi – studi
semacam itu adalah bahwa sepuluh ribu jam latihan merupakan prasyarat
untuk mencapai pengusaan seorang ahli tingkat dunia- dalam hal apa pun..
dalam berbagai studi tentang komposer, pemain basket, penulis fiksi,
ice- skater, pianis konser, pemain catur, penjahat top, dan lain –lain,
angka ini selalu muncul ”
Belum pernah ada kasus studi yang ditemukan bahwa orang mencapai
kepakaran tingkat dunia dengan waktu latihan kurang dari sepuluh ribu
jam. Tampaknya orang memerlukan waktu selama itu untuk mencerna segala
hal yang perlu diketahuinya untuk mencapai tingkatan master sejati.
Teori sepuluh ribu jam ini konsisten dengan apa yang kita ketahui
tentang bagaimana otak belajar, menurut letivin dan gladwell. Mereka
mengatakan bahwa pembelajaran memerlukan konsilidasi dalam otak; semakin
banyak pengalaman kita terhadap suatu tindakan tertentu, semakin
kuatlah koneksi antar sel otak ini.
Untuk membuktikan teori ini, Gladwell menceritakan kisah The Beatles,
yang tampil bersama di Hamburg dalam waktu lama sebelum terkenal.
Menurut Gladwell, sebelum the Beatless menikmati kesuksesan pertamanya
pada tahun 1964, mereka bermain secara Live bersama – sama sekitar dua
ratus kali, kadang – kadang selama delapan jam tanpa putus. Ini adalah
sebuah prestasi yang luar biasa, karena sebagian besar grup musik tidak
tampil sebegitu sering dalam seluruh karir mereka. Semakin lama mereka
bermain bersama, para anggota band menjadi lebih baik dan lebih percaya
diri. “Secara insidental,” tulis GlasWell, Waktu yang berlalu antara
pendirian grup mereka dan prestasi artistik adalah sepuluh tahun.4
Sekarang mari kita hitung – hitungan. Sepuluh ribu jam itu sama dengan
tiga jam perhari, atau dia puluh jam perminggu, selama periode sepuluh
tahun. Ini bukanlah perkara yang rumit tetapi juga tidak sederhana,
butuh komitmen luar biasa. Oprah Winfrey mengatakan “Ikutilah hasrat
terdalam anda. Kerjakanlah apa yang anda cintai, dan uang akan datang
sendiri. Sebagian orang tidak percaya tetapi itu benar”. Oleh sebab itu,
langkah awal sebelum kita memutuskan keahlian seperti apa yang akan
kita dalami, carilah terlebih dahulu hal yang membuat kita tertarik dan
gemari, setelah itu berfokuslah pada keahlian itu.
Cara sederhana untuk mencari tahu sesuatu yang kita sukai adalah ketika
kita melakukannya ada antusias yang muncul dalam kegiatan itu, bahkan
ketika malam hari tiba diri kita sudah tidak sabar lagi menyambuat pagi
di keesokan harinya untuk kembali melakukan kegiatan itu, mungkin itulah
yang disebut hasrat.
Anis Matta dalam bukunya delapan air matta kecermerlangan mengatakan
pengenalan kompetensi inti biasanya dapat dikenali melalui beberapa
ciri:
- Jika kita berkerja pada kompetensi inti, maka biasanya dapat dengan mudah menguasai perkerjaan itu sampai ke detil-detilnya.
- Jika kita berkerja pada kompetensi inti, maka kita dengan mudah membangkitkan minat kita pada pekerjaan tersebut.
- Jika kita bekerja pada kompetensi inti, maka kita akan mempunyai kemampuan improvisasi dan berinovasi pada pekerjaan itu.
- Jika kita berkerja pada kompetensi inti, maka biasanya merasakan
bahwa peluang perkembangan kita dalam pekerjaan tersebut cenderung lebih
besar dari bidang- bisang yang lain.
oleh sebab itu, membangun keahlian diri melalui pengenalan kompetensi
inti itu penting agar memudahkan kita menuju keahlian level dunia.
Menjadi manusia biasa pada umumnya itu tidaklah menarik, hidup ini
hanyalah sekali dan berbatas waktu. Optimalkan setiap waktu untuk
meningkatkan kapasitas diri. Pencapain level dunia akan membuat diri
kita bisa lebih bermanfaat bagi orang lain…
Catatan :
- Carmine Gallo, Rahasia persentasi steve jobs (Essensi Erlangga Froup,2009),171
- Malcom Gladwll, outliers (New York:Little,Brown and Company),48
- Daniel Levitin, This is your Brain on Music (new york:Plume-penguin,2007),97
- Malcom GladWell, outliers (New York:Little,Brown and Company),48